Selasa, 07 Desember 2010

Sejarah Agama Budha

Agama Buddha bagi bangsa Indonesia sebenarnya bukanlah agama
baru. Ratusan Tahun yang silam agama ini pernah menjadi pandangan
hidup dan kepribadian bangsa Indonesia tepatnya pada zaman kerajaan
Sriwijaya, kerajaan Maratam Purba dan keprabuan Majapahit.
Candi Borobudur, salah satu warisan kebudayaan bangsa yang amat kita
banggakan tidak lain cerminan dari kejayaan agama Buddha di zaman
lampau.

         Sekitar tahun 423 M  Bhiksu Gunawarman datang ke negri Cho-
Po (jawa) untuk menyebarluaskan ajaran Buddha. Ternyata ia
memperoleh perlindungan dari penguasa setempat, sehingga misinya
menyebar luaskan ajaran Buddha berjalan lancar. semua ini tercatat
di dalambuku Gunawarman dan jika di dasarkan pada buku ini maka
kemungkinan besar ia adalah seorang perintid pengembangan agama
Buddha di Indonesia pada zaman tersebut.

    Berdasarkan catatan dari kerajaan Tang di Tiongkok, pada
pertengahan abad ke-7 di Jawa Tengah terdapat sebuah kerajaan yang
menganut agama Buddha namanya Kaling. Di Tiongkok nama itu lebih
dikenal dengan sebutan Ho Ling. Kerajaan ini sangatalah tertib dan
tentram walaupun dipimpin oleh seorang wanita tangan besi yang
bernama ratu Sima. Ho ling saat itu menjadi pusat ilmu pengetahuan
agama Buddha, dan tidak sedikit orang Tionghoa dari dataran Cina
datang ke negri tersebut untuk belajar agama Buddha, walaupun pada
zaman dinasti Tang agama Buddha telah menjadi agama resmi di negri
Cina..

    Dalam abad ke-7 dan ke-8 antara India dan Cina terjalin hubungan
yang ramai. Hungan tersebut tidak semata-mata di Bidang perdagangan,
melainkan juga dalam ilmu pengetahuna dan agama Buddha. Antara tahun
618 hingga 907 Cina diperintah oleh Dinasti Tang, sedang di India
dalam abad ke-7 berkuasa raja Harcha yang bersikap toleran terhadap
agama Buddha. Maka pada zaman itu banyak musafir dan Bhiksu dari
Cina yang berziarah ke tempat-tempat suci agama Buddha di India.

    Dalam pertengahan abad ke-7 ini pula Sriwijaya tumbuh dan
berkembang menjadi pelabuhan penting di tepi perairan Selat Malaka,
urat nadi lalu-lintas penting antara India dan Cina. Selama beberapa
abad, kerajaan ini memegang hegemoni lautan. Sriwijaya boleh
dikatakan pusat perdagangan dan pusat agama Buddha  di Asia
Tenggara. Agama Buddha di zaman Sriwijaya adalah agama Buddha aliran
Mahayana dengan memahami bahasa Sansekerta.

        Antara tahun 850 hingga awal abad-13, kerajaan Sriwijaya
diperintah oleh keluarga Syailendra yang pernah berkuasa di Mataram,
Jawa Tengah, antara tahun 778-850. Selama 75 tahun berkuasa di
Mataram, keluarga Syailendra banyak mendirikan bangunan suci
Buddhist  berupa candi seperti Candi Kalasan, Plaosan, Sari,
Borobudur, Pawon dan Mendut. Sriwijaya kemudian meluaskan
kekuasaannya sampai ke Muangthai Selatan yang sekarang disebut
Suratani dan Pattani. Candi-candi yang dibuat oleh Sriwijaya di sana
antara lain Vihara Mahadhata di Jaiya dan Vihara Mahadhata di Nakorn
Sitnamart yang sampai sekarang masih ada dan bentuk bangunan, arca-
arca Buddha serta Bodhisattva mirip dengan yang terdapat di Jawa.

        Attisa, Bhikkhu yang sangat terkenal dari Tibet yang
membangun kembali agama Buddha di negara tersebut pernah datang ke
Sumatra dan tinggal di sana dari tahun 1011 - 1023. Ia belajar di
bawah bimbingan Dharmakirti, seorang Bhiksu terkemuka di zaman
Sriwijaya. berdasarkan catatan biografi Attisa yang di tulis di
Tibet, Sumatra adalah pusat utama agama Buddha, sedang Bhiksu
Dharmakirti adalah seorang cendekiawan terbesar di zaman itu.

        Kedatangan  para dharmaduta ke Indonesia mendorong banyak
orang pergi berziarah ke India untuk mengunjungi tempat-tempat suci
dan pusat-pusat agama Buddha seperti Universitas Nalanda dan lain-
lain. Setelah kembali ke Indonesia mereka mendirikan candi-candi
dengan berbagai bentuk dan ukuran.

        Agama Buddha yang semula berkembang di Pulau Jawa dan
Sumatra adalah beraliran Theravada yang dikembangkan oleh Bhiksu
Gunawarman. Lambat-laun aliran ini terdesak oleh aliran-aliran lain
yang masuk ke Indonesia setelah mereka mempunyai kedudukan yang kuat
di India. Hal ini terlihat dengan berdirinya candi Kalasan yang
dipersemabahkan untuk Dewi Arya Tara (personifikasi Prajnaparamita
menurut aliran Tantrayana, salah satu sekte agama Buddha Mahayana)
pada tahun 779 M. . Dari catatan epigraphic diketahui bahwa salah
satu dari raja Syailendra di Jawa mempunyai guru bernama Kumaraghosa
dari negri Ganda (Bengal) yang menganut faham Tantrayana. Hal
tersebut mendorong berkembangnya agama Buddha Mahayana.

        Kehidupan agama Buddha pada masa kerajaan Mataram - I  bisa
dilihat dari prasasti Conggol, sebelah Barat-daya Magelang, yang
dikeluarkan oleh Raja Sanjaya. Pasasti tersebut menyebutkan bahwa
pada tahun 654 Saka (732 M) hari senin tanggal 13 terang bulan
Kartika, Raja Sanjaya mendirikan sebuah lingga yang merupakan
lambang dari dewa Siwa yang dipuja oleh raja dan rakyatnya. Sanjaya
sendiri putera Saimaha, saudara perempuan Raja Sanna yang memerintah
sebelum Sanjaya.

        Pada masa pemerintahan Raja Panangkaran tahun 775, dinasti
Syailendra mulai berkuasa di Jawa Tengah bagian selatan sehingga
kekuasaan dinasti Sanjaya terdesak ke utara Jawa Tengah, yakni
sekitar dataran tinggi Dieng. Di sana Sanjaya mendirikan beberapa
candi, antara laincandi Bimo, Arjuno, Semar dan Argopuro.

        Raja-raja yang berkuasa pada zaman dinasti Syailendra ialah
Bhanu (752-775), Wisnu (775-782), Indra (782-812), Samarottungga
(812-833) dan Balaputradewa (833-856). Prasasti-prasasti Syailendra
ialah prasasti Kalasan pada tahun 778, dengan menggunakan huruf
pranagari dan bahasa Sansekerta; prasasti Kelurak dekat Yogya tahun
782, juga memakai huruf pra-nagari dan bahasa Sansekerta; prasasti
Karang Tengah dekat Temanggung pada tahun 824 dengan memakai bahasa
Sansekerta dan Jawa Kuno dan prasasti Kahulunan, Kedu, pada tahun
842 yang ditulis dalam bahasa dan huruf Jawa Kuno.

        Selama pemerintahan Syailendra, banyak bangunan candi yang
didirikan sebagaimana telah disinggung di atas. Satu diantara candi-
candi yang tersohor adalah Borobudur yang didirikan pada masa Raja
Samarottungga. Candi Sajiwan dan Plaosan dibangun pada masa
pemerintahan suami-isteri Rakai Pikatan-Pramodawardhani (puteri
Samarottungga). Nampaknya pengaruh Pramodawardhani sangat besar,
sehingga yang dibangun adalah candi bercorak Buddha. Raja Rakai
Pikatan sendiri beragama Siwa (Hindu). Jelas pada masa itu terdapat
rasa toleransi agama yang besar.

        Perkawinan Rakai Pikatan yang beragama Siwa dan
Pramodawardhani yang beragama Buddha bersifat politis untuk
menghadapi Balaputra yang sedang berkuasa, selain untuk mencapai
kerukunan antara dua dinasti yang sedang bersaing dan bahkan saling
bertentangan. Balaputra dan saudaranya, Pramodawardhani bersaing
untuk menduduki jabatan Raja Mataram setelah ayah mereka,
Samarottungga meninggal dunia. Balaputra berhasil naik tahta antara
tahun 833 - 856, tetapi akhirnya benteng pertahanan Balaputra
dirobohkan juga oleh persekutuan  Rakai Pikatan Pramodawardhani,
dengan demikian maka hanculah benteng terakhir dinasti Syailendra di
Jawa Tengah sebelah Selatan desa Prambanan.

        Sejak pemerintahan Rakai Pikatan, dan kemudian disusul oleh
Rakai Kayuwangi (856-886), Rakai Watukumalang (886-898), Balitung
(898-910), Daksa, Tulodong dan Wawa, pemerintahan dinasti Sanjaya
semakin berkembang. Pada masa Raja Wawa, pusat kekuasaan Mataram
dipindahkan ke Jawa Timur, sehingga peranan Jawa Timur selama dua
abad kemudian berhasil menggantikan kedudukan Jawa Tengah.

        Ada dua pendapat tentang apa sebabnya pusat pemerintahan
kerajaan Mataram dipindahkan yang ditandai juga dengan perpindahan
massal rakyat ke Jawa Timur. Pertama,mereka yang berpendapat
perpindahan itu akibat meletusnya gunung Merapi yang banyak
menimbulkan bencana dan korban. Menurut kepercayaan rakyat,
meletusnya gunung Merapi menunjukkan kemarahan para dewa. Pendapat
ke-dua, karena tarikan faktor ekonomi di Jawa Timur yang semakin
besar, di mana perdagangan dan pelayaran laut dan sungai kian rarnai.

        Babak pertama pemerintahan Mataram di Jawa Timur dipegang
oleh dinasti Isana, nama yang diambil dari nama Sri Maharaja Rake
Hino Sri Isana Wikramadjarmotunggadewa, gelar Mpu Sendok. Bagaimana
Mpu Sendok naik tahta kurang dutetahui. Namun diduga melalui
perkawinannya de putri Wawa. Dari prasasti-prasasti yang
dikeluarkannya, ternyata Mpu Sendok banyak menaruh perhatian pada
perdagangan dan pelayaran di kali Brantas selain pertanian. Mpu
Sendok juga dikenal Raja yang memerintah dengan lebih demokratis dan
menaruh minat pada soal-soal hukum serta kesusastraan· Pada masa
pemerintahan Mpu Sendok-lah di

        Mpu Sendok sendiri penganut agama Hindu, sehingga timbul
kesan adanya toleransi agama yang sangat kuat di masa itu. Nampaknya
antara agama Hindu yang dianut di Kutai, Taruma dan Mataram pada
satu pihak dan agama Buddha yang dianut Sriwijaya dan Mataram (masa
dinasti Syailendra) di lain pihak pernah terjadi persaingan dan
perbenturan. Narnun kemudian terjadi toleransi yang diawali oleh
perkawinan Rakai Pikatan dan Pramodawardhani. Hal mana dilanjutkan
pada masa pemerintahan Isana dan kemudian terjadi "pembauran" antara
Hindu dan Buddha sehingga batas kedua agama itu semakin kabur pada
masa Singosari dan Majapahit. Pembauran kedua agama ini masih dapat
disaksikan di Jawa dan Bali.

        Diantara raja-raja keturunan Mpu Sendok, yang paling
berhasil adalah Airlangga. la adalah seorang raja yang ditaati oleh
rakyatnya yang rela menyerahkan segala milik mereka demi kepentingan
pemerintahaan Airlangga. Airlangga berhasil membawa kerajaan Mataram
pada puncaknya; tapi Airlangga pula yang meruntuhkan kerajaan itu.

        Runtuhnya kerajaan Mataram sudah berada di ambang pintu
tatkala Sanggramatunggadewi, orang kedua yang pantas menduduki tahta
sesudah Airlangga, menolak jabatan besar tersebut. la lebih suka
memilih hidup suci sebagai petapa di Pucangan, gunung Penanggungan,
dengan nama Kili Suci. Maka, Airlangga terpaksa minta bantuan Mpu
Bharada yang sakti untuk membagi kerajaannya kepada kedua putranya,
Jenggala (Singasari) di bagian Timur dan Kediri di bagian Barat pada
tahun 1041. Airlangga sendiri menjadi petapa pada tahun 1042 dengan
nama Resi Gentayu sampai wafat pada tahun 1049 dan dimakarnkan di
Tirtha, tempat permandian Jalatunda dekat desa Belahan di sebelah
Timur gunung Penanggungan.

        Airlangga sebagai penjelmaan Wishnu diwujudkan dalam bentuk
Wishnu sedang naik seekor burung Garuda.

        Kerajaan Majapahit adalah Negara Kesatuan Indonesia kedua
setelah Sriwijaya yang dibangun oleh umat Buddha dan Hindu. Umat
Buddha dan Hindu dalam zaman keprabuan Majapahit, berhasil
mengantarkan bangsa Indonesia memasuki zaman keemasannya. Kejayaan
keprabuan Majapahit dapat terwujud antara lain disebabkan karena
adanya kerukunan intern umat Buddha dan kerukunan intern umat Hindu
serta adanya kerukunan hidup antara umat Buddha dan umat Hindu pada
zaman itu. Maharaja Hayam Wuruk dalam menjalankan pemerintahannya
didampingi oleh penasehat agung dalam keagamaan yakni Dharmadhyaksa
Ring Kasongatan dan golongan Buddha dan Dharmadhyaksa Ring Kasewan
dari golongan Hindu. Kerukunan hidup umat beragama pada zaman
Majapahit dirintis dan dipelopori oleh Pujangga Buddhis yang agung,
Mpu Tantular. Dalam bait syair yang ada di dalam buku yang
ditulisnya yakni kitab "SUTASOMA" pujangga besar Mpu Tantular
menulis: "Siwa Buddha Bhinneka Tunggal lka Tan Hana Dharma Mangrwa".
Kalimat sakti yang dapat mempersatukan umat beragama dan rakyat
Majapahit pada waktu itu, yakni Bhinneka Tunggal lka, sekarang
merupakan kalimat sakti pemersatu bangsa Indonesia dan ditulis dalam
lambang negara Garuda Pancasila.

        Setelah  keprabuan Majapahit  mengalami zaman keemasan, pada
masa pemerintahan Hayam Wuruk dengan Maha Patihnya Gajah Mada yang
beragama Buddha, akhirnya mengalami keruntuhan karena kerukunan
hidup umat beragama serta persatuan kesatuan rakyat". Majapahit
tidak dapat lagi dipertahankan. Terjadinya perpecahan dan
pertentangan yang tidak henti-hentinya akhirnya membawa Majapahit
sirna dari muka bumi ini. Bersama dengan itu agama Buddha juga
mengalami pasang surut dalam perkembangannya, kemusnahannya semakin
nyata dalam zaman penjajahan Belanda. Narnun demildan, dalam zaman
penjajahan Belanda pula agama Buddha mulai dipelajari dan dihayati
oleh generasi muda yang terhimpun dalam Perhimpunan Theosofi
Indonesia dan Sam Kauw.

Agama Buddha Dalam Zaman Penjajahan

        Pada zaman penjajahan Belanda, di Indonesia hanya dikenal
adanya tiga agama yakni agama Kristen Protestan, Katolik dan Islam
sedangkan agama Buddha tidak disebut-sebut. Hal ini adalah salah
satu sikap Pemerintah Kolonial Belanda waktu itu. Dengan demikian
agama Buddha dapat dikatakan sudah sima di bumi Indonesia, tetapi
secara tersirat di dalam hati nurani bangsa Indonesia, agama Buddha
masih tetap terasa antara ada dan tiada.

        Pada zaman pemerintahan kolonial Belanda di Jakarta
didirikan Perhimpunan Theosofi oleh orang-orang Belanda terpelajar.
Tujuan dari Theosofi ini mempelajari inti kebjaksanaan semua agama
dan untuk menciptakan inti persaudaraan yang universal. Theosofi
mengajarkan pula kebijaksanaan dari agama Buddha, di mana seluruh
anggota Thesofi tanpa memandang perbedaan agama, juga mempelajari
agama Buddha. Dari ceramah-ceramah dan meditasi agama Buddha yang
diberikan di Loji Theosofi di Jakarta, Bandung, Medan, Yogyakarta,
Surabaya dan sebagainya, agama Buddha mulai dikenal, dipelajari dan
dihayati. Dari sini lahirlah penganut agama Buddha di Indonesia,
yang setelah Indonesia merdeka mereka menjadi pelopor kebangkitan
kembali agama Buddha di Indonesia.

        Dalam zaman penjajahan Belanda, di Jakarta timbul pula usaha
untuk melestarikan ajaran agama Buddha, Khong Hucu dan Lautse dan
usaha mana kemudian lahir Organisasi Sam Kauw Hwee yang bertujuan
untuk mempelajari ketiga ajaran agama dan kepercayaan tersebut. Dari
sini pula kemudian lahir penganut agama Buddha, yang dalam zaman
kemerdekaan agama Buddha bangkit dan berkembang.

        Dalam tahun 1932 di Jakarta telah berdiri International
Buddhist Mission Bagian Jawa dengan Yosias van Dienst sebagai Deputy
Director Generalnya. Tahun 1934 telah diangkat A. van der Velde di
Bogor dan J. W. de Wilt di Jakarta masing-masing sebagai Asistant
Director yang membantu Yosias van Dienst.

        Setahun sebelum berdirinya International Buddhis Mission
Bagian Jawa, tepatnya tahun 1931, di Jakarta terbit majalah Mustika
Dhamia yang dipimpin oleh Kwee Tek Hoay. Majalah Mustika Dharma
mernuat tentang pelajaran Theosofi, tentang agama Islam, tentang
sari pelajaran dan Yesus, ajaran Krisnamurti, terutama mengenai
ajaran agama Buddha (Buddha Dhamia), Khonghucu dan Lautse. Majalah
Mustika Dharma besar jasanya dalam menyebar luaskan kembali agama
Buddha, sehingga agama Buddha mulai dikenal, dimengerti, dihayati
dan diamalkan dalam kehidupan. Atas prakarsa dari Kwee Tek Hoay
kemudian lahir organisasi Sam Kauw, organisasi yang mempelapori
kebangkitan agama Buddha disamping Perhimpunan Theosofi Indonesia,
dan Pemuda Theosofi Indonesia, setelah Indonesia Merdeka.

Naiada Thera

   Tanggal 4 Maret 1934 Narada Thera menginjakkan kakinya di
pelabuhan Tanjung Priok, disambut oleh Yosias van Dienst dan Tjoa
Hin Hoay dan beberapa umat Buddha. Narada Thera adalah bikhhu yang
pertama datang dari luar negeri setelah berselang kira-kira lima
ratus tahun. Narada Thera telah memberikan ceramah agama Buddha di
loji-loji Theosofi dan di Klenteng-klenteng di Bogor, Jakarta,
Yogya, Solo dan Bandung. Di Candi Borobudur pada tanggal 10 Maret
1934 Narada Thera turut hadir dalam upacara penanaman pohon bodhi
yang cangkokannya dibawa oleh lr. Meertenas dari Buddhagaya, India.
Pohon bodhi yang telah tumbuh besar di Candi Borobudur itu kemudian
dimatikan, karena merusak bangunan candi. Duta Besar Srilangka
menyerahkan lagi cangkokan pohon. Pohon bodhi tersebut ditanam di
kawasan luar Candi Borobudur disaksikan oleh Gubernur Supardjo
Rustam. Pohon bodhi dari Duta Besar Srilangka itu adalah cangkokan
dari pohon bodhi yang sampai sekarang masih tumbuh di Anuradhapura
di Srilangka yang dahulu dibawa oleh Raja Mahinda ke Srilangka.

        Java Buddhist Association yang telah menerbitkan majalah
Namo Buddhaya dalam bahasa Belanda telah banyak menarik perhatian
dan minat orang-orang Cina, yang pada waktu itu telah banyak
menganut agama lain, dan telah mengganti tradisi serta adat istiadat
leluhurnya dengan kebiasaan Barat. Kemudian tahun 1932 Kwee Tek Hoay
membentuk Sam Kauw Hwee yang anggotanya terdiri dari penganut agama
Buddha, Khonghucu dan Laocu. Sam Kauw Hwee menerbitkan majalah Sam
Kauw Gwat Po dalam bahasa Indonesia. Setelah Indonesia merdeka, Sam
Kauw Hwee kehilangan Ketuanya dengan meninggalnya Kwee Tek Hoay
tahun 1952. Sam Kauw Hwee lalu diorganisir kembali dengan masuknya
beberapa organisasi kedalamnya, antara lain Tian Lie Hwee dibawah
pimpinan Ong Tiang Biauw yang kemudian menjadi Bhikkhu Jinaputta.
Sam Kauw Hwee kemudian menjadi Gabungan Sam Kauw Indonesia (GSKI)
dengan Ketuanya yang pertama adalah The Boan An, yang sekarang
dikenal sebagai Maha Sthavira Ashin Jinarakkhita Maha Thera. Dalarn
tahun 1962 dibawah pimpinan Drs. Khoe Soe Khiam, GSKI dirubah
namanya menjadi Gabungan Tri Dharma Indonesia dengan majalahnya
bemama Tri Budaya.

Perkembangan Agama Buddha Sejak Kemerdekaan R.I.

Perhimpunan Theosofi y.ang bertujuan untuk membina persaudaraan
universal melalui penghayatan pengetahuan tentang semua agama
termasuk agama Buddha, telah menarik perhatian dan minat orang-orang
Indonesia terpelajar. Dari mempelajari agama Buddha kemudian
timbullah dorongan untuk menghayati dan mengamalkan ajaran agama
Buddha. Dari sinilah bermulanya orang-orang Indonesia terpelajar
mengenal agama Buddha sampai akhirnya menjadi penganut Buddha
Dharma. Orang-orang Indonesia terpelajar yang kemudian menjadi umat
Buddha melalui Theosofi antara lain M.S. Mangunkawatja, Ida Bagus
Jelanti, The Boan An, Drs. Khoe Soe Khiam, Sadono, R.A. Parwati,
Ananda Suyono, I Ketut Tangkas, Slamet Pudjono, Satyadharma, lbu
Jamhir, Ny. Tjoa Hm Hoey, Oka Diputhera dan lain-lainnya. Meskipun
theosofi tidak bertujuan untuk membangkitkan kembali agama Buddha
narnun dari theosofi ini lahir penganut agama Buddha yang kemudian
setelah Indonesia merdeka menjadi pelopor kebangkitan kembali agama
Buddha di Indonesia. Karena itu baik Perhimpunan Theosofi Indonesia
maupun Perhimpunan Pemuda Theosofi Indonesia secara tidak langsung
mempunyai andil yang besar dalam kebangkitan kembali agama Buddha di
Indonesia.

        The Boan An yang menjadi pimpinan GSKI dan Perhimpunan
Pemuda Theosofi Indonesia, kemudian ditahbiskan menjadi Bhikkhu di
Burma dengan nama Bhikkhu Ashin Jinarakkhita. Sejak 2500 tahun
Buddha Jayanti, tepatnya tahun 1956 saat kebangkitan kembali agama
Buddha di bumi Indonesia, Bhikkhu Ashin Jinarakkhita-lah yang
memimpin kebangkitan kembali agama Buddha ke seluruh lndonesia.
Karena itu Bhikkhu Ashin Jinarakkhita dinyatakan sebagai Pelopor
Kebangkitan agama Buddha secara nasional di Indonesia. Dari bhikkhu
Ashin Jinarakkhita lahir tokoh-tokoh umat Buddha di Indonesia
seperti Sariputra Sadono, K. Karbono, Soemantri MS, Suraji
Ariakertawijaya, Oka Diputhera, I Ketut Tangkas, Ida Bagus Gin dan
pimpinan Buddha lainnya yang sampai sekarang masih aktif dalam
organisasi Buddhis dan ada pula di antaranya telah menjadi Bhikkhu
scperti Ida Bagus Gin vane sekarang dikenal dengan nama Bhikkhu
Girirakkhito.

        Jadi dari Gabungan Tri Dharma Indonesia dan Perhimpunan
Theosofi Indonesia serta Perhimpunan Pemuda Theosofi Indonesia lahir
penganut-penganut agama Buddha yang kemudian bersama-sama dengan
Bhikkhu Ashin  Jinarakkhita mempelopori kebangkitan kembali agama
Buddha dalam tahun kebangkitannya yakni tahun 1956. Nama-nama yang
mendampingi Bhikkhu Ashin Jmarakkhita dalam mempelopori kebangkitan
kembali agama Buddha dalam era 2500 tahun Buddha Jayanti tahun 1956
antara lain M.S. Mangunkawatja, Sariputra Sadono, Sasanasobhana,
Sosro Utomo, I Ketut Tangkas, Ananda Suyono, R.A. Parwati,
Satyadharma, lbu Jayadevi Djamhir, Pannasiri Go Eng Djan, Ida Bagus
Giri, Drs. Khoe Soe Khiam, Ny. Tjoa Hin Hoey, Harsa Swabodhi,
Krishnaputra, Oka Diputhera dan sebagainya.

        Organisasi Buddhis yang mempersiapkan kebangkitan kembali
agama Buddha di Indonesia adalah International Buddhis Mission
Bagian Jawa dibawah pimpinan Yosias van Dienst, yang banyak mendapat
bantuan dari Perhimpunan Theosofi dan Gabungan Sam Kauw.

        Organisasi Buddhis yang mempelopori kebangkitan
danperkembangan agama Buddha di Indonesia sejak tahun 1950-an ialah
Persaudaraan Upasaka-Upasika Indonesia (PUUI) yang diketuai oleh
Sariputra Sadono, kemudian oleh Karbono, Soemantri MS, Oka Diputhera
(Sek. Jen) sampai kemudian berganti nama menjadi Majelis Ulama Agama
Buddha Indonesia (MUABI) yang kemudian menjadi Majelis Upasaka
Pandita Agama Buddhayana Indonesia. Yang membentuk PUUI adalah
Bhikkhu Ashin Jinarakkhita dalam tahun 1954, sebagai pembantunya
dalam menyebarkan agama Buddha di Indonesia.

        Kemudian Bhikkhu Ashin Jinarakkhita merestui berdirinya
Perhimpunan Buddhis Indonesia tahun 1958 dengan Ketua Urnunanya
Sariputra Sodono dan Sek. Jen. Sasana Sobhana. Kemudian Ketua Umum
PERBUDHI adalah Soemantri MS dengan Sek. Jen. Oka Diputhera.
Perbudhi kemudian dilebur menjadi Budhi bersama-sama dengan
organisasi Buddhis lainnya.

        Dalam tahun 1958 berdiri Sangha Suci Indonesia yang kemudian
ganti nama menjadi Maha Sangha Indonesia. Maha Sangha Indonesia
kemudian pecah melahirkan Sangha Indonesia. Dengan demikian di
Indonesia terdapat dua Sangha yakiri Maha Sangha Indonesia dan
Sangha Indonesia.
Maha Sangha Indonesia dipimpin oleh Bhikkhu Ashin Jinarakkhita dan
Sangha Indonesia dipimpin oleh Bhikkhu Girirakkhito.

        Tahun 1974 atas prakarsa Direktur Jendral Bimbingan
Masyarakat Hindu dan Buddha, Gde Pudja MA, telah diadakan perternuan
antara Maha Sangha Indonesia dan Sangha Indonesia. Hasil dan
perternuan tersebut melahirkan Sangha Agung Indonesia yakni gabungan
dari Maha Sangha Indonesia dan Sangha Indonesia. Sebagai Maha Nyaka
Sangha Agung Indonesia terpilih Sthavira. Ashin Jinarakkhita.

        Kemudian setelah Kongres Umat Buddha Indonesia di
Yogyakarta, di Indonesia terdapat tiga kelompok Sangha, yakni Sangha
Agung Indonesia, Sangha Theravada Indonesia dan Sangha Mahayana
Indonesia yang sernuanya tergabung dalam Perwakilan Umat Buddha
Indonesia (WALUBI).

        Sangha Mahayana Indonesia dibentuk tahun 1978. Dewasa ini
pengurusnya terdiri atas Bhiksu Dharmasagaro (Ketua Urnum), Bhiksu
Dharmabatama (Ketua 1), Bhiksu Sakyasakti (Ketua II), Bhiksu
Dutavira (Sekretaris Urnum), Bhiksu Dhyanavira (Sekretaris 1) dan
Bhiksu Andhanavira (Sekretaris II). Sangha Mahayana Indonesia inilah
yang, mencetuskan ide pembangunan Pusdikiat Buddha Mahayana
Indonesia. Cita-cita Sangha adalah menyebarluaskan ajaran Buddha
Mahayana di Indonesia dengan menggunakan bahasa Indonesia serta
menterjemahkan kitab-kitab suci agama Buddha ke dalam bahasa
Indonesia.

        Mengingat upacara-upacara ritual agama Buddha dewasa ini
urnumnya masih menggunakan aksara Mandarin, maka sejak 1982 Bhiksu
Dutavira dengan tidak mengenal lelah dan dengan kemampuan terbatas
yang dimikinya berusaha mengembalikan bentuk-bentuk upacara dalam
aksara Sansekerta serta bahasa Indonesia. Hal ini telah diterapkan
di II propinsi di Indonesia dengan memperoleh sambutan antusias
sekali, khususnya dari para umat Buddha Mahayana. Apa yang dilakukan
oleh Bhiksu Dutavira selama 4 tahun itu boleh dikatakan semacam
merintis proyek pilot Pusdiklat Mahayana.

        Kini dirasa semakin mendesak untuk meningkatkan proyek pilot
tadi dalam bentuk pusdikiat modern yang serba lengkap dan yang
didukung pula oleh para akhli agama Buddha baik dari dalam negeri
maupun luar negeri. Rencana ini telah memperoleh izin prinsip dari
Departemen Agama

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar